Nikotin Sebagai Sediaan Patch
August 13, 2012
Jenis Makanan Bagi Penderita Diabetes Militus
August 15, 2012

TERAPI DIARE

Terapi diare bertujuan untuk mengatur asupan makanan, mencegah gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa dalm tubuh, mengatasi gejala simtomatis, dan mengatasi gejala sekunder yang menyebabkan diare (contoh: obat-obatan golongan laksatif, antineoplastik dan lain sebagainya) (Spruill and Wade, 2008).

Klinisi harus mengetahui bahwa diare merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengatasi senyawa berbahaya dan pathogen. Respon terapi yang tepat bila hal ini terjadi adalah dengan tidak menghentikan diare (Spruill and Wade, 2008).

TERAPI NON-FARMAKOLOGIS

  1. Cairan dan Elektrolit

Rehidrasi dan penjagaan kadar air dan elektrolit merupakan tujuan terapi utama  hingga diare dapat teratasi. Bila pasien mengalami deplesi volume cairan tubuh, rehidrasi harus dilakukan untuk mengganti cairan dan elektrolit hingga komposisi normal tubuh tercapai. Bila muntah dan dehidrasi tidak parah maka pemberian secara enteral (melalui mulut atau peroral) merupakan metode terpilih dan tidak mahal. (Spruill and Wade, 2008)

Selama diare, usus halus kehilangan kemampuannya untuk mengaabsorbsi monosakarida seperti glukosa. Glukosa mengikat air dan elektolit lainnya secara aktif. Oleh karena itu WHO memformulasikan ORS (Oral Rehydration Solution) yang memiliki osmolaritas rendah (Spruill and Wade, 2008), mengandung air, garam, dan glukosa (Mims and Curry, 2008). ORS direkomendasikan untuk mengatasi diare akut. Bayi dan anak yang berat badannya berkurang 5% hingga 7% dapat diterapi dengan ORS dosis 40-50 mL/kg yang digunakan pada 4-6 jam pertama. Terapi lanjutan dengan dosis 150 mL/kg/hari bila rehidrasi telah berhasil (Hogue, 2000). Bila anak yang mengalami diare uga memiliki gejala seperti haus yang berkelanjutan, mulut kering,, urin yang pekat, nafas yang cepat atau drowsiness, maka ORS dibutuhakan (Edwards and Stillman, 2000). ORS-WHO memiliki kandungan 75 mEq/L natrium, 75 mmol/L glukosa, 65 mEq/L klorida, 20 mEq/L kalium, dan 10 mEq/L sitrat, larutan ini memiliki osmolaritas 245 mOsm/L (Mims and Curry, 2008). Jangka waktu penggunaan larutan ORS (ORS yang telah direkonstitusi) bila disimpan pada suhu ruangan adalah 12 jam dan bila disimpan di kulkas adalah 24 jam (Hogue, 2000). Larutan sederhana dapat dibuat dari 1 L air yang dicampur dengan 8 sendok the gula dan 1 sendok makan garam.

Pasien diare yang tidak mengalami dehidrasi dapat mengganti cairan yang hilang dengan minuman jahe, the, jus buah, kuah, atau sup. Penggunaan sports drinks untuk mengatasi dehidrasi harus hati-hati karena tidak memiliki komposisi elektrolit yang sesuai. Diare yang parah membutuhkan larutan parenteral seperti Ringer’s lactate atau normal salin untuk mengganti kehilangan cairan (Mims and Curry, 2008).

 

  1. Modifikasi Diet

Manajemen diet merupakan prioritas utama untuk mengatasi diare. Sebagian besar klinisi merekomendasikan untuk menghentikan konsumsi makanan padat dan produk- produk makanan sehari-hari. Namun, hal ini masih dipertanyakan karena belum diteliti secara mendalam (Spruill and Wade, 2008).

Pasien dengan diare akut biasanya mengurangi asupan makanan dan berfokus pada kondisi diare. Anak-anak maupun orang dewasa sebaiknya menjaga asupan nutrisinya. Makanan memberikan nutrisi dan juga cairan untuk mengganti cairan yang hilang. Bagaimanapun juga, cairan dalam makanan tidak cukup untuk mengkompensasi cairan yang hilang akibat diare. Makanan tertentu tidak sesuai untuk dikonsumsi karena mengiritasi saluran cerna atau menyebabkan diare (Mims and Curry, 2008). Asupan makanan pada anak dengan diare akut akibat infeksi bakteri harus terus diberikan (Spruill and Wade, 2008). Pasien dengan diare kronis dapat mengkonsumsi makanan yang meningkatkan massa feses, seperti pisang, nasi, gandum utuh dan kulit padi atu gandum (Mims and Curry, 2008).

Asupan makanan yang dapat diberikan pada pasien diare akut pada 24 jam pertama adalah nasi, sup, roti, salter crackers, sereal masak, kentang masak, telur, dan saus apel (Hogue, 2000). Pasien dengan gejala mual dan atau muntah disarankan mengonsumsi makanan yang mudah dicerna dan mengandung residu rendah selama 24 jam (Spruill and Wade, 2008). Asupan makanan normal dapat diberikan setelah 2-3 hari (Hogue, 2000). Bila mual dan muntah tidak terkontrol maka diterapi dengan antimual, dan nutrisi diberikan secara perenteral (Spruill and Wade, 2008).

 

TERAPI FARMAKOLOGIS

  1. 1.                  Adsorben

 

  1. 2.                  Antimotilitas

 

 

  1. Antisekretori

Bismut subsalisilat diketahui memiliki efek antiinflamasi, antisekretori dan antimikroba sehingga dapat digunakan untuk mengatasi diare akut (Mims and Curry, 2008; Spruill and Wade, 2008). Kandungan bismuth subsalisilat dengan bentuk sediaan tablet kunyah adalah 262 mg, larutan 262 mg/5 mL, dan larutan 524 mg/ 5 mL. Dosis untuk dewasa adalah 2 tablet atau 30 mL setiap 30 menit hingga 1 jam dengan maksimal penggunaan maksimal 8 dosis per hari (Spruill and Wade, 2008). Walaupun bismut subsalisilat dapat melalui saluran cerna dalam bentuk utuh, gugus salisilat dapat diabsorbsi di perut dan usus halus. Oleh karena itu, bismut subsalisilat tidak boleh diberikan pada orang yang alergi terhadap salisilat. Pada pasien yang sedang mengonsumsi salisilat perlu diberikan perhatian khusus untuk mencegah terjadinya salisilism (tinnitus, mual, dan muntah). Pasien yang mengonsumsi bismut subsalisilat perlu diedukasi bahwa fesesnya akan berwarna hitam (Mims and Curry, 2008) dan lidahnya juga menghitam (Spruill and Wade, 2008). Bismut subsalisilat efektof untuk menggatasi traveler diarrhea (Spruill and Wade, 2008).

Octreotid merupakan antisekretori yang digunakan untuk mengatasi diare sekretori parah yang berkaitan dengan kemoterapi kanker, HIV, diabetes, gastric resection, dan tumor saluran cerna. Octreotid digunakan melalui rute subkutan atau injeksi intravena bolus dengan dosis awal 500 mcg 3 kali sehari untuk mengatasi toleransi pasien terhadap efek samping pada saluran cerna. Konsentrasi insulin-like growth factor-1 (IGF-1 atau somatomemedin C) yang dicek dua kali seminggu dapat digunakan sebagai dasar penyesuaian dosis. Efek samping yang dapat timbul antara lain mual, sendawa, nyeri pada tempat injeksi dan batu ginjal (bila dilakukan terapi jangka panjang) (Mims and Curry, 2008).

 

  1. Antibiotik

Eradikasi untuk mengatasi mikroba tergantung pada agen penyebab dan sensititivitas antibiotik. Diare akibat infeksi mikroba umumnya disebabkan oleh Escherichia coli  enterotoksigenik (ETEC) atau enteropatogenik (EPEC). Antibiotik yang digunakan untuk terapi diare akibat infeksi bakteri E. coli antara lain golongan Fluorokuinolon seperti siprofloksasin atau levofloksasin. Azitromisin merupakan terapi pilihan bila terjadi resistensi terhadap antibiotik golongan fluorokuinolon (Mims and Curry, 2008).

  1. Enzim

Produk dengan kandungan enzim lactase digunakan untuk mengatasi diare yang disebabkan intoleransi laktosa. Laktase dibutuhkan untuk mencerna karbohidrat. Bila pasien kekurangan enzim ini, penggunaan produk berbahan dasar susu (susu atau es krim) akan mengakibatkan diare osmotik (Spruill and Wade, 2008).

 

  1. Antikolinergik

Atropin menghambat tonus vagal dan memperpanjang waktu transit di usus. Fungsi antikolinergik untuk terapi diare masih dipertanyakan dan terbatas karena efek sampingnya. Penggunaan antikolinergik kontraindikasi pada kondisi glaucoma sudut tertutup, penyakit jantung, dan uropati obstruktif (Spruill and Wade, 2008).