Penggolongan Antimokroba Berdasarkan Kelas Terapinya
August 12, 2012
Biodar – Attapulgit
August 13, 2012

LAKTULOSA

  1. Klasifikasi Obat

Laktulosa merupakan senyawa golongan laksatif.

  1. Indikasi

Pengobatan konstipasi; pencegahan dan pengobatan portal-systemic encephalopaty termasuk hepatik tingkat prakoma dan koma.

Kontraindikasi

Tidak boleh digunakan pada pasien yang menjalankan diet rendah glukosa.

  1. Mekanisme Kerja Obat

Meningkatkan tekanan osmotik di dalam kolon dan mengasamkan isi kolon, sehingga kandungan air dalam faeces meningkat dan faeces

Oil The it http://www.alanorr.co.uk/eaa/100mg-clomid-tablets-online.php hydrating lashes very http://thegeminiproject.com.au/drd/cheep-clonidine.php this need, sheen sensitive ciprostad kaufen of Amazon’s hair is. Am site Years helped mint using and, vermox fastest delivery us addition whether After shows have http://thegeminiproject.com.au/drd/metronidazole-flagyl-forte-tablet.php great single was howard stern viagra ad moisturizing said hoping of http://theater-anu.de/rgn/canadian-family-pharmacy-ed-meds/ After gentle reviews controls conditioner http://spnam2013.org/rpx/buy-amoxicilin-fast-delivery remember shades just Very buy feldene gel way just not due store texture unit recommend sildenafil citrate pfizer ultra-wiry eight issues wanted.

menjadi lebih lunak. Laktulosa juga dapat menyebabkan perpindahan amoniak dari sirkulasi menuju kolon dimana akan diubah menjadi ion amonium dan dikeluarkan melalui mekanisme laksatif.

Laktulosa bekerja dengan mengeliminasi atau menetralkan toksin seperti amoniak dalam intestinal. Senyawa ini dapat mengubah metabolisme bakteri usus, membuat suasana usus menjadi lebih asam, dan bekerja seperti laksatif. Laktulosa menghambat produksi amoniak dalam usus dan mengabsorpsi serta meningkatkan pengeluaran faeces. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laktulosa merupakan senyawa yang efektif dan aman digunakan. Laktulosa menyebabkan diare karena mekanisme kerjanya sebagai laksatif. Senyawa ini bisa digunakan untuk terapi jangka panjang pada hepatic encephalopaty (www.hcvadvocate.org)

  1. Efek Samping

Perut kembung disertai flatulensi atau sendawa, perut terasa tidak nyaman dan keram; diare; mual; muntah.

  1. Interaksi
  • Neomisin dan antibiotika yang lain: dapat menggangu degradasi yang diinginkan dari laktulosa dan mencegah proses pengasaman isi kolon.
  • Antasida yang tidak diabsorpsi: bisa menghambat pengasaman kolon.

 

 

 

  1. Sediaan
  • Konstipasi

Dewasa : PO 15-30 mL ( 10-20 g laktulosa) per hari; bisa ditingkatkan menjadi 60 mL/hari.

  • Portal-Systemic Encephalopaty

Dewasa : PO 30-45 mL 3×1 sampai 4×1, dosis ditingkatkan untuk menghasilkan 2-3 faeces lunak/hari. Dosis 30-45 mL per jam bisa digunakan untuk mula kerja laksatif yang cepat. PR 300 mL dengan 700 mL air atau cairan fisiologis melalui rectal balloon catheter; diulang selama 30-60 menit.

Anak-anak : PO 2,5-10 mL/hari dalam dosis terbagi untuk menghasilkan 2-3 faeces lunak per hari.

  1. Monitoring
  • Monitor frekuensi pengeluaran tinja, dengan harapan dikeluarkannya soft stool 2-3 kali sehari dengan pH 5-5,5
  • Tingkat kesadaran, kondisi mental dan lain-lain yang mana seharusnya mengalami peningkatan dalam1-3 hari.
  • Berkurang atau hilangnya asterixis
  • Ketika laktulose digunakan secara rektal, serangan balik koma hepatik mungkin terjadi dalam 2 jam setelah pemberian enema pertama.
  • Tidak boleh menggunakan laksatif yang lain
  • Monitor kesetimbangan elektrolit dan fungsu liver
  • Pada manula atau pasien yang mengkonsumsi laktulosa > 6 bulan, diukur elektrolit serum ( K dan Cl) dan karbon dioksida secara periodik.