Dosis dan Toksisitas Ekstrak Etanol Temulawak
August 12, 2012
Penggolongan Antimokroba Berdasarkan Kelas Terapinya
August 12, 2012

Hal yang penting untuk dipertimbangkan sebelum memilih antibiotik

  1. Perlukah antibiotik diberikan pada pasien tersebut?
  2. Sebelum antibiotik diberikan sudahkah bahan tersebut dikulturkan?
  3. Jenis mikroba apakah yang pada umumnya menyebabkan infeksi?

Infeksi yang didapat dari rumah sakit biasanya disebabkan oleh gram negatif bacilli yang resisten terhadap antibiotik atau S. aureus yang resisten terhadap methicillin. Beberapa infeksi nosokomial dapat disebabkan oleh Pseudomonas spp.

 

 

  1. Apakah diperlukan kombinasi antibiotik?

–         Bila suatu antibiotik dapat meningkatkan aktivitas antibiotik lain daripada efek samping dan toksiknya.

–         Kerugian pemberian antibiotik kombinasi :

–         meningkatkan resiko sensitivitas dan toksisitas obat

–         meningkatkan risiko resistensi bakteri

–         ada kemungkinan bekerja secara antagonis

–         biaya yang lebih tinggi

–         dapat meningkatkan efek samping

 

 

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi pasien

Misalnya faktor genetik, faktor kondisi renal, faktor kondisi liver, dan lain-lain.

  1. Rute pemberian yang terbaik
  2. Dosis yang tepat
  3. Apakah terapi yang telah diberikan perlu dimodifikasi bila data kultur telah tersedia?
  4. Berapa lamakah terapi diberikan?

–         Durasi optimal terapi antibiotik dapat ditentukan (terapi osteomielitis minimal 4 minggu) atau secara empirik (misalnya 10-14 hari untuk peritonitis) namun durasi sangat tergantung individu

–         Spektrum luas sangat dianjurkan karena penggunaan antibiotik spektrum sempit dapat menyebabkan multiresisten bakteri (Reese and Betts, 2000)

 

 

Kepekaan kuman terhadap antimikroba tidak menjamin efektivitas klinis jika :

  • Dosis yang kurang : dosis suatu antimikroba seringkali tergantung dari tempat infeksi, walaupun kuman penyebabnya sama
  • Masa terapi yang kurang : konsep lama yang menyatakan bahwa untuk tiap jenis infeksi perlu diberikan antimikroba tertentu selama jangka waktu tertentu kini telah ditinggalkan. Pada umumnya para ahli cenderung melakukan individualisasi masa terapi, yang sesuai dengan tercapainya respons klinik yang memuaskan, namun untuk penyakit tertentu seperti osteomielitis, tetap dipertahankan masa terapi yang cukup lama walaupun perbaikan klinis cepat terlihat.
  • Adanya faktor mekanik : abses, benda asing, jaringan nekrotik, sekuester tulang, batu saluran kemih, mukus yang banyak, dan lain-lain, merupakan faktor-faktor yang dapat menggagalkan terapi dengan antimikroba. Untuk itu dilakukan pencucian luka, insisi, dan lain-lain sangat menentukan keberhasilan mengatasi infeksi.
  • Pemilihan antimikroba yang kurang tepat.

Suatu daftar antimikroba yang dinyatakan efektif dalam uji kepekaan tidak dengan sendirinya menyatakan bahwa setiap antimikroba yang tercantum itu akan memberikan efektivitas klinik yang sama.

 

 

 

  • Faktor pasien.

Keadaan umum yang buruk dan gangguan mekanisme pertahanan badan (seluler dan humoral) merupakan faktor penting yang menyebabkan gagalnya terapi antimikroba

 

 

Penggunaan antibiotik perlu waspada karena dapat timbul berbagai efek samping, antara lain :

  1. Reaksi hipersensitivitas/alergi

Reaksi ini ditunjukkan oleh orang-orang yang mempunyai kepekaan tinggi terhadap obat dan biasanya terdapat pada orang-orang yang berbakat atopik. Terjadinya alergi pada pasien akan membatasi penggunaan obat yang kadang-kadang merupakan obat yang tepat untuk penyakitnya.

 

  1. Toksisitas

Beberapa antibiotik mempunyai batas keamanan yang sempit antara dosis terapeutik dan toksisitasnya. Efek toksik yang mungkin timbul adalah : nefrotoksisitas dan otoksisitas dari aminoglycoside; anemia aplastik misalnya oleh chloramphenicol, pewarnaan gigi oleh tetracycline dan colitis pseudomembran oleh clindamycin.

 

  1. Resistensi kuman terhadap antibiotik

Proses resistensi kuman bisa terjadi baik secara genetik maupun non genetik. Keadaan ini bisa terjadi pada pemberian obat yang tidak tepat, dosis yang subminimal dan pemberian obat kombinasi yang efeknya berbeda (misalnya bakteriostatik dan bakteriosidal) ataupun obat-obat yang mempunyai spektrum luas dalam waktu lama.

Hal-hal tersebut di atas kita jumpai pada pemberian obat topikal dan pemberian obat untuk profilaksis. Akibatnya melalui proses seleksi oleh antibiotik akan terjadi superinfeksi oleh galur kuman yang resisten dan mempunyai peluang untuk tumbuh secara tepat.

 

  1. Resistensi kolonisasi

Pada beberapa bagian tubuh manusia bakteri-bakteri flora normal dapat mengelola keseimbangan mikrobial tubuh, sehingga terjadinya beberapa penyakit infeksi dapat dicegah. Mekanisme ini disebut sebagai bacterial antagonism atau colonization resistance, yang juga menyangkut kompetisi dalam nutrisi, proses pelekatan pada mukosa, penimbunan asam yang mudah menguap, perubahan pH atau penurunan redoks potensial.

Pada saluran cerna resistensi kolonisasi terutama diperankan oleh bakteri anaerob. Bila antibiotik seperti tetracyclin, ampicilin dan clindamycin diberikan dalam dosis besar selama beberapa hari, maka mikroorganisme potensial patogen seperti C. difficile dan P. aeruginosa akan tumbuh berlebihan dan penyebab enterocolitis atau bakteriemi.

 

  1. Infeksi oportunis

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dalam waktu yang lama pada lokasi-lokasi dengan mukosa yang dihuni oleh flora normal tubuh dapat mengakibatkan terjadinya infeksi dengan kuman-kuman opotunis. Sebagai contoh adalah kandidiasis yang timbul akibat pemberian tetracyclines, cephalosporin atau ampicilin.

 

  1. Pasien dengan gagal ginjal

Sebagian besar antimikroba diekskresikan oleh ginjal, sehingga bila ada gangguan fungsional dari ginjal perlu dilakukan penyesuaian dengan mengurangi dosis atau memperpanjang interval waktu antara dosis. Hal ini mutlak untuk obat-obat yang nefrotoksik seperti aminoglikosid, flusitosin dan vankomisin. Pada pasien dengan gangguan faal ginjal pemberian obat tersebut di atas perlu diikuti dengan pemantauan konsentrasi obat dalam serum.

 

  1. Pasien dengan kehamilan dan laktasi

Pemindahan antibiotik melalui plasenta dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor. Pada bulan-bulan terakhir dari kehamilan, karena volume distribusi obat pada janin yang dapat menembus plasenta. Antibiotik yang dikontraindikasikan untuk wanita hamil antara lain adalah ciprofloxacin, norfloxacin, griseofulvin, asam nalidiksat, tetracycline, emetin dan primaquine. Antibiotik yang dianggap aman adalah golongan penicillin, cephalosporin, erythromycin basa, metenamin mandelat, spectinomycin, nystatin, klorokin dan pirantel pamoat. Obat-obat yang tidak terdaftar harus digunakan secara hati-hati dan hanya untuk indikasi klinik yang kuat.

Dalam air susu Ibu konsentrasi obat antibiotik belum banyak diketahui. Umumnya kadar antibiotik dalam air susu Ibu antara 25-75% dari kadar obat dalam serum, kecuali untuk isoniazid, metronidazole, trimethoprim dan sulfonamides yang sama konsentrasinya seperti dalam serum.

Pada umumnya antibiotik dapat digunakan untuk masa laktasi, kecuali asam nalidiksat, nitrofurantoin, dan obat-obat sulfa yang memberi bahaya menginduksi hemolisis pada bayi yang menderita defisiensi G-6-PD. Sebaiknya pemberian metronidazole pada Ibu 24 jam sebelum pemberian laktasi (Pedoman Penggunaan Antibiotik Nasional, Dep.KesehatanRI, 1992).