Kandungan Senyawa dan Khasiat dalam Curcuma xanthorrhiza
August 12, 2012
Dosis dan Toksisitas Ekstrak Etanol Temulawak
August 12, 2012

Ekstraksi Temulawak

Dalam membuat sebuah produk OHT dari rimpang temulawak dan kencur, bahan baku yang digunakan adalah berupa ekstrak. Sebelum dicampur dengan ekstrak dari kaempferia galanga terlebih temulawak atau curcuma xanthorrhiza diekstraksi dalam pelarut dan kondisi yang terbaik untuk mendapatkan kandungan kurkumin yang terbesar. Untuk mendapatkan ekstrak dengan kandungan kurkumin terbanyak sudah dilakukan penelitian dengan metode maserasi menggunakan pelarut aseton (Sidik,1985)  Sedangkan kadar kurkumin dalam ekstrak per bobot sampel tertinggi terjadi pada ekstraksi selama 12 jam, suhu 35oC dan perbandingan bahan baku – pelarut 1:8. Kadar kurkumin terbesar diperoleh pada saat perlakuan pelarut 400 ml dan ukuran partikel 40 mesh.

Setelah didapat ekstrak yang diinginkan, dilakukan analisis dengan KLT  untuk memastikan apakah ekstrak yang didapat benar-benar kurkumin dan HPLC untuk analisis kuantitatif kadar yang kurkumin yang ada didalam ekstrak curcuma xanthorrhiza.

  1. Bahan dan Metode Penelitian

Bahan :

Rimpang temulawak

Aseton teknis

Aseton p.a (Merck)

Kurkumin standar (Sigma)

Methanol grade HPLC

dan bahan – bahan analisis lainnya.

Alat :

Labu leher tiga dengan dilengkapi pengaduk

Termometer

Pemanas

Rotavapour

HPLC

dan peralatan analisis lainnya.

  1. Metode Penelitian

Ekstraksi dilakukan dengan ukuran partikel –40 mesh dan pengadukan pada putaran 280 rpm dengan kondisi operasi sebagai berikut :

a. Variabel suhu : suhu 35oC

b. Perbandingan pelarut – bahan = 8 : 1

c. Waktu ekstraksi : 12 jam

Analisis KLT ekstrak untuk analisis kualitatif dilakukan dengan menggunakan fase gerak benzene : kloroform : etanol (49 : 49 : 2) dan diamati pada lampu UV dengan panjang gelombang 366 nm dan 254 nm. Sedangkan analisis HPLC dilakukan dengan menggunakan jenis kolom hypersill C-18, panjang kolom 25 cm, diameter kolom 4,6 mm, fase gerak metanol : air (60 : 40 ), laju alir 1 ml/ menit, panjang gelombang 254 nm, detektor UV model K-2501.

  1. Prosedur kerja:

Sampel temulawak basah dipotong dengan ketebalan rerata 5 mm, kemudian dikeringkan pada oven pada suhu 60oC hingga tercapai kadar air maksimal 10 %. Sampel yang telah kering kemudian digiling dan diayak. Serbuk yang berukuran 40 mesh  disimpan dalam plastik untuk dijadikan sebagai bahan baku ekstraksi. Serbuk temulawak yang diperoleh dianalisis kandungan air, abu, kurkumin, lemak,minyak atsiri, kurkumin,protein dan pati.

Sebanyak 50 gram serbuk temulawak dimasukkan ke dalam labu leher tiga dengan perbandingan pelarut – bahan baku, suhu dan waktu ekstraksi sesuai dengan kondisi operasi yang dinginkan. Pelarut terlebih dahulu dipanaskan sampai kondisi operasi yang diinginkan, baru sampel dimasukkan kedalam labu.

Setelah ekstraksi selesai dilakukan penyaringan, filtrat dipekatkan dalam rotavapour pada suhu 40 C sampai tidak adanya destilat yang menetes. Ekstrak yang diperoleh selanjutnya dianalisis kandungan kurkuminnya dengan menggunakan KLT dan HPLC.

(Srijanto et al,. 2007)